Get Adobe Flash player

Pemerintah Harus Membuat Terobosan Peningkatkan Produksi Kedelai

Share

Semarang - Kemelambungan harga kedelai impor hingga mendekati Rp 10.000 membuat kelimpungan perajin tempe. Di Banyumas misalnya, sejumlah perajin tempe terpaksa mencampur kedelai dengan ketela. Sementara di Brebes, kenaikan bahan baku tempe  tersebut membuat sejumlah produsen terancam gulung tikar.

Di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sejumlah produsen terpaksa harus mengurangi ukuran tempe. Hani Wicaksono (50), perajin tempe di Jl Palagan Tentara Pelajar Km 10, Sleman mengaku mengurangi seperempat dari ukuran biasa. ”Kalau tak begitu, usaha bisa gulung tikar."
Ketua Primer Koperasi Produsen Tahu Tempe (Primkopti) Jateng, Sutrisno kemarin menjelaskan, para perajin terancam tidak bisa melakukan aktivitas produksi apabila harga kedelai terus tinggi. ”Perajin tahu tempe jelas resah kalau harga kedelai semakin tinggi. Mereka lebih memilih menghentikan produksinya jika terus merugi,” ungkapnya.

Selama ini perajin sangat bergantung dengan kedelai impor. Sebab, produksi kedelai lokal tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Para perajin pun lebih memilih kedelai impor karena stoknya lebih melimpah. Menurut Sutrisno, petani kini enggan menanam kedelai karena harga pembelian pemerintah (HPP) kedelai yang ditetapkan tidak menarik. Pemerintah sendiri enggan meningkatkan produksi, sehingga kebutuhan kedelai dalam negeri tidak tercukupi. ”Petani banyak beralih menanam komoditas lain yang lebih menjanjikan, karena harganya dinilai lebih tinggi,” katanya.

Mainkan Harga

Sutrisno menilai, kemelemahan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah ikut menjadi penyebab melambungnya harga kedelai. Importir menahan aktivitas mereka. Pihaknya menuding naik-turunnya harga kedelai disebabkan pula importir yang kerap memainkan harga. Ia berharap pemerintah segera melakukan langkah strategis agar harga kedelai kembali normal. Dia juga mendesak pemerintah bisa mengimpor kedelai, sehingga harga lebih murah, karena saat ini harga kedelai berada di bawah kendali importir. Primkopti Jateng segera melayangkan surat kepada presiden agar segera ada solusi hingga 10 September mendatang.

Sementara itu anggota Komisi B DPRD Jateng M Rifan berharap Pemprov harus membuat terobosan dengan meningkatkan produksi kedelai. Langkah ini penting agar harga kedelai di pasaran dapat dikendalikan. Selain menekan impor, upaya peningkatan produksi ini juga akan membuat harga kedelai stabil dan tidak terpengaruh melemahnya nilai tukar rupiah. ”Impor dilaksanakan karena terjadi ketidakberimbangan antara produksi dan kebutuhan kedelai,” katanya.

Sebagaimana diketahui, produksi kedelai Jateng per tahun bisa mencapai 152.416 ton. Untuk kebutuhan kedelai berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jateng pada tahun 2012 mencapai sekitar 500.000 ton. Menurut Rifan, peningkatan produksi kedelai ini dapat dilakukan dengan cara memberikan stimulasi kepada petani berupa pemberian insentif, kredit berbunga murah, dan penghargaan.

Terobosan

”Pemerintah harus membuat terobosan untuk meningkatkan produksi kedelai. Tidak ada salahnya memberikan insentif, kredit berbunga murah, atau penghargaan karena mereka (petani kedelai, Red) juga merupakan pahlawan ketahanan pangan,” kata Ketua Fraksi Golkar tersebut.

Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Jateng ini meyatakan, jika terobosan peningkatan produksi tidak dilakukan, maka harga kedelai akan terus terpengaruh ketika nilai rupiah melemah. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, harga kedelai impor impor naik dari harga normal Rp 7.000/ kilogram menjadi Rp 9.000/ kilogram. Kenaikan ini seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang menembus 11.000 per 1 dolar AS. Faktor lain penyebab kenaikan harga kedelai ialah anomali cuaca di negara pengimpor kedelai.

”Pemerintah harus membuat terobosan untuk meningkatkan produksi kedelai. Tidak ada salahnya memberikan insentif, kredit berbunga murah, atau penghargaan karena mereka (petani kedelai, Red) juga merupakan pahlawan ketahanan pangan,” kata Ketua Fraksi Golkar DPRD Jateng tersebut.


Sementara itu, Wakil Gubernur Heru Sudjatmoko mendukung upaya peningkatan produksi. ”Kenaikan harga kedelai ini masalah lama, sekitar 70 persen kebutuhan kedelai ini impor. Jadi kalau dolar naik terhadap rupiah, maka harga kedelai akan turut naik,” tandasnya. Terlebih lagi, peningkatan produksi kedelai ini juga sesuai dengan misi Gubernur Ganjar Pranowo yang menghendaki kedaulatan pangan. ”Upaya peningkatan produksi ini harus sistematis dan dilakukan secara bertahap. Sangat ironis, meski menjadi bagian dari negara agraris, tapi impor kedelainya bisa mencapai 70 persen,” jelasnya.[]

Sumber : http://www.suaramerdeka.com